Minggu, 26 September 2010

Keadilan Di Bawah Naungan Islam


Jika Anda melihat bagaimana uniknya sistem peradilan dalam Negara Islam dijalankan, Anda akan melihat bahwa pengadilan bukan semata-mata faktor yang mengekang naiknya tingkat kejahatan, melainkan ia adalah batas pertahanan terakhir. Anda akan menyaksikan bagaimana negara menjamin hak-hak Anda, dan memastikan bahwa keadilan adalah satu-satunya wasit (yang adil) dalam perselisihan-perselisihan Anda.1. Taqwa, Garis Pertahanan Anda
Sebagai seorang muslim, Anda menilai bahwa keyakinan Anda dalam Islam dan kondisi keta’aan terhadap Sang Pencipta, Allah swt., menyebabkan Anda berbuat dalam cara-cara tertentu. Ketaqwaan Anda (takut kepada Allah) akan memotivasi Anda untuk meninggalkan apa-apa yang dilarang (haram) dan melaksanakan hal-hal yang diwajibkan (fardhu). Sehingga secara otomatis hal ini akan membantu mencegah Anda dan muslim yang lain di sekitar Anda dari tindak kejahatan seperti pencurian, perampokan, penyalahgunaan narkoba, dan lain-lain, karena itu semua adalah haram.
Bagi muslim, persoalan tersebut kemudian menjadi tidak bisa menimbulkan resiko tindak kriminal sebab ada kemungkinan ia akan tertangkap. Lebih-lebih masih akan menghadapi hukuman di neraka, dimana Allah swt., Yang Maha Mengetahui, Maha Melihat menyiapkan hal itu bagi orang-orang yang tersesat.
2. Tekanan Dari Publik
Faktor kedua berkenaan dengan masyarakat itu sendiri. Dalam negara Islam, Anda berada di sebuah lingkungan yang hanya berlandaskan pada Islam dan menyerukan nilai-nilai dan perasaan Islam. Tidak akan ada pengaruh-pengaruh media yang bertujuan menjauhkan Anda dari keta’atan kepada Allah swt., ataupun ambisi-ambisi yang tidak Islami yang dimiliki oleh masyarakat di sekitar kita, seperti sukses dengan segala cara atau meningkatkan status, mempengaruhi kita. Anda akan merasakan bahwa diri Anda dikelilingi oleh orang-orang yang memandang rendah perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan Islam dan sebaliknya memuji orang-orang yang amalnya sesuai dengan Islam. Semua ini akan menciptakan sebuah opini publik melawan tindakan kejahatan yang akan berfungsi sebagai “pengawas” terhadap orang-orang yang berniat melakukannya (tindak kejahatan).
3. Keadilan Dalam Islam
Manusia sangat terbatas pengetahuannya dan bisa keliru (salah). Mereka cenderung salah dan bersifat menduga-duga (berprasangka). Islam tidak menyerahkan pembuatan undang-undang peradilan kepada kehendak dan hawa nafsu manusia sebagaimana yang terjadi di Barat. Namun kebolehan membuat membuat undang-undang (hukum) hanya bagi Allah swt., Pencipta manusia dan satu-satunya Yang Maha Mengetahui tentang manusia. Siapakah yang lebih pantas dalam perkara ini. Allah swt. berfirman:
“ Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah”(QS.al-An’am (6) :57)
Sehingga Anda tinggal menyakini bahwa dalam peradilan Islam, faktor-faktor seperti hakim berkolusi dengan terdakwa, atau mengalami hari-hari yang tidak menyenangkan, semuanya tidak akan ada sangkut pautnya dengan kerasnya hukuman yang telah ditentukan oleh petugas.
Jika Anda adalah korban kejahatan dan Anda miskin sedangkan lawan Anda kaya, tidak akan ada pengaruhnya terhadap putusan pengadilan. Meskipun Anda diijinkan untuk menunjuk seorang wakil untuk berbicara atas nama Anda, juga tidak ada sejumlah besar uang yang harus dipertaruhkan.Oleh karena itu, tidak masalah siapa pun yang mengajukan kasus Anda, atau seberapa persuasifnya dia bicara, melainkan hal tersebut diserahkan kepada hakim untuk memastikan fakta-fakta yang ada dan mengevaluasinya.
Dalam Islam, kesalahan yang terbukti nyata sudah cukup untuk pelaksanaan sebuah hukuman. Sehingga, tidak ada konsep juri dimana anggota-anggotanya mungkin tidak setuju satu sama lain terhadap suatu putusan, yang tentu saja didasarkan atas kehendak pribadi.
Bukti-bukti tidak langsung, yang bersifat tidak pasti dan cenderung memiliki penafsiran yang berbeda-beda, tidak cukup seluruh bukti dihadirkan kepada seorang hakim yang ahli di bidang hukum, dan dia menjatuhkan hukuman sesuai dengan hukum-hukum yang berasal dari Islam. Maka, hanya mereka yang terbukti sebagai pelaku tindak keahatanlah yang akan dihukum. Bisa saja kejahatan-kejahatan tersebut tidak mendapat putusan hukum secara langsung, namun ia tidak bisa lari dari hukum di hari pembalasan nanti.
Bukti Hukum
Ada beberapa cara dimana suatu tindak kejahatan bisa dibuktikan di pengadilan, namun hal itu terbatas hanya pada masalah yang dapat menyakinkan kesalahan yang nyata. Sebagai contoh, bukti tidak langsung sepereti sidik jari pada sebuah senjata pembunuhan tidak dengan sendirinya cukup memberikan kepastian 100 % tentang bersalahnya si pemilik sidik jari tersebut. Oleh karena itu, jenis bukti yang seperti ini tidak dapat diterima dalam pengadilan Islam. Ada 2 macam kesaksian yang dapat memberikan bukti kesalahan yang nyata:
  1. 1. Kesaksian karena melihat (syahada)
Kesaksian seseorang yang telah benar-benar melihat terjadinya sebuah kejahatan adalah bukti yang valid. Namun, ini hanya bisa diambil dalam kasus-kasus dimana kejujuran saksi terbukti. Ada pengadilan khusus yang bertujuan menguji karakter, ingatan, kecerdasan dan lain-lain dari para saksi yang dihadapkan ke pengadilan. Contoh dari kasus ini adalah kasus zina dimana kesaksian dari 4 orang saksi dibutuhkan untuk membuktikan kejahatan itu. Allah swt. berfirman:
“Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada 4 orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya).”(QS. An-Nisaa’, (4):15)
Jika beberapa saksi gagal untuk membawa kesaksian yang menguatkan, atau seseorang yang menuduhkan keahatan tidak dapat menghadirkan 4 orang saksi, maka mereka akan dikenai hukuman tentang qazaf (tuduhan palsu).
  1. 2. Pengakuan (Iqrar)
Disepakati bahwa pengakuan kejahatan dianggap cukup untuk pengadaan kesalahan dan dengan demikian, berdasarkan pengakuan pelakunya (laki-laki/perempuan), hukuman yang layak dapat diberikan.
Abu Daud meriwayatkan bahwa: seorang wanita dari Ghamid datang kepada Rosulullah saw. dan berkata: Aku telah melakukan perbuatan zina, beliau menjawab,” Kembalilah.” Lalu wanita itu datang lagi di hari berikutnya dan berkata,” Mungkin engkau ingin menyuruhku kembali sebagaimana yang engkau lakukan kepada  Ma’ad  Ibn Malik. Demi Allah, saya sedang hamil,”Dia berkata pada wanita itu,”Kembalilah”, wanita itu datang lagi pada hari yang lain. Rosul bersabda,”Kembalilah hingga engkau melahirkan bayi itu”. Dia pergi. Ketika dia melahirkan, dia membawa bayi itu kepadanya dan berkata,”Ini dia! Aku telah melahirkannya.”Dia berkata,”Kembalilah dan susuilah dia hingga kamu menyapihnya”. Ketika dia telah menyapihnya, wanita itu membawa anak itu kepadanya dan di tangannya ada makanan yang sedang dia makan. Anak itu kemudian diberikan kepada salah seorang dari kaum muslimin dan Rosulullah memerintahkan untuk mengasuhnya. Maka sebuah lubang digali untuk wanita itu, dan dia memerintahkan untuk melemparinya dengan batu hingga mati. Khalid adalah salah seorang yang melemparinya dengan batu. Dia melemparkan bati itu kepadanya. Ketika setetes darahnya mengalir dari pipinya, dia (kholid) menghinakannya. Muhammad saw. berkata padanya,”Lunaklah wahai Khalid! Demi Allah yang jiwaku ada dalam gemgaman-Nya, sesungguhnya dia telah bertobat sedemikian besarnya sehingga apabila seorang yang berdosa mengambil seluruhnya untuk tobatnya, maka dia akan diampuni.” Kemudian Rosul memerintahkan untuk menghormatinya, dia juga berdo’a untuk wanita itu dan wanita itu pun dikubur.
Tetapi, apabila orang yang mengaku itu menarik pengakuannya, maka hukuman itu pun akan segera dihentikan, sebab kesalahan tidak bisa lagi karena bersifat tidak pasti. Hal ini juga berlaku jika, sebagi contoh, selama hukuman dilaksanakan orang tersebut melarikan diri atau mulai protes.
Source : almuhajirun.net

Tentara AS yang Ditangkap IIA Masuk Islam dan Menjadi Pelatih Pembuat Bom


Seorang tentara AS yang ditangkap Mujahidin Imarah Islam Afghanistan (IIA) telah memeluk agama Islam dan dikabarkan dirinya menjadi salah seorang pelatih pembuah bom dan keterampilan menyerang.
Bowe Bergdahl telah menghilang sejak Juni 2009 di wilayah Afghanistan Timur dan tidak lama kemudian tersebar video yang memperlihatkan dirinya bersama Mujahidin IIA.
Pria berusia 24 tahun tersebut telah memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Abdullah, lapor The Sunday Times.
Seorang Wakil Komandan di provinsi Paktika yang menyebut dirinya bernama Haji Nadeem mengatakan kepada surat kabar bahwa Bergdahl mengajarinya cara membongkar telepon seluler dan mengubahnya menjadi remot kontrol untuk bom pinggir jalan.
Nadeem mengklaim bahwa ia juga menerima pelatihan dasar dari tentara AS tersebut.
“Kebanyakan dari keahlian yang ia ajarkan telah kami ketahui,” ujarnya.  “Beberapa rekan saya belum mempercayainya dan berpikir bahwa ia berpura-pura menjadi Muslim untuk menyelamatkan dirinya.”
Pejabat intelijen Afghan meyakini bahwa Bergdahl telah bekerjasama dengan Taliban dan menjadi penasehat untuk para pejuang di wilayah perbatasan Pakistan.
Nadeem juga mengisahkan tentang penangkapan Bergdahl.  Setelah tentara tersebut meninggalkan posnya di distrik Yahya Khel, provinsi Paktia dengan seorang tentara Afghan dan mencoba memasuki desa terdekat.  Sekelompok Mujahid mendekatinya dan menyerang dua tentara tersebut, seorang tentara Afghan tewas dan tentara AS ditangkap.
Pada bulan April, sebuah video yang menampilkan sosok Bergdahl dan meminta Amerika Serikat membebaskannya dirilis oleh Mujahidin IIA.
Dalam video tersebut ia mengatakan ingin kembali ke keluarganya di Idaho dan bahwa perang di Afghanistan tidak sebanding dengan nyawa yang telah hilang atau teraniaya di penjara. (haninmazaya/arrahmah.com)
Raih amal shalih, sebarkan informasi ini..

Dimanakah Al-Mu’tasim sang pembela sejati bagi kaum tertindas Hari Ini?


Dahulu, di masa keemasan Islam, ada seorang teladan abadi sepanjang masa. Dia adalah khalifah al-Mu'tasim, khalifah Bani Abbasiyah (833-842 Masehi). Dialah yang menyambut seruan seorang muslimah yang dilecehkan tentara Romawi dengan mengirimkan pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah dan melibas seluruh tentara kafir Romawi di sana hingga bebaslah sang muslimah tadi dari tawanan Romawi. Kini, ketika ribuan muslimah dan muslim ditawan tentara-tentara kafir, dimanakah Al-Mu'tasim hari ini?
Teladan Heroik Pejuang Muslim
Kisah heroik Al-Mu'tashim dicatat dengan tinta emas sejarah Islam dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn Al-Athir. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tahun 223 Hijriyyah, dalam judul Penaklukan kota Ammuriah.
Ketika itu, al-Mu'tasim, khalifah di masa Bani Abbasiyah, sedang memegas gelas untuk minum ketika didengarnya seorang muslimah dilecehkan oleh tentara Romawi. Khalifah pun langsung berseru kepada panglima perangnya agar bersiap menuju Ammuriah, tempat dimana muslimah tersebut berteriak meminta tolong.
Konon, muslimah itu keturunan Bani Hashim dan sedang berbelanja di sebuah pasar di kawasan negeri di bawah kekuasaan Romawi, di utara benua Asia, yakni tepatnya di kota Ammuriah, kawasan Turki hari ini. Di saat sedang berjalan itulah, sang muslimah diganggu oleh seorang lelaki Romawi dengan menyentuh ujung jilbabnya hingga dia secara spontan berteriak : "Wa Mu'tashamah....!!!" Yang juga berarti "Dimana kau Mu'tasim...Tolonglah Aku"
Teriakan muslimah tersebut akhirnya sampai ke telinga Khalifah al-Mu'tasim. Puluhan ribu tentara pun digelar mulai dari gerbang ibukota di Baghdad hingga ujungnya mencapai kota Ammuriah. Pembelaan kepada muslimah ini sekaligus dimaksudkan oleh khalifah sebagai pembebasan Ammuriah dari jajahan Romawi.
Catatan sejarah menyatakan bahwa ribuan tentara Muslim bergerak di bulan April, 833 Masehi dari Baghdad menuju Ammuriah. Kota Ammuriah dikepung oleh tentara Muslim selama kurang lebih lima bulan hingga akhirnya takluk di tangan Khalifah al-Mu'tasim pada tanggal 13 Agustus 833 Masehi.
Hanya seorang Muslimah yang dilecehkan kafir Romawi dan berteriak 'Wahai Mu'tasim" maka sang khalifah tersentuh hatinya dan terbakar ghiroh Islamnya sehingga dilancarkanlah serangan penaklukan ke Ammuriah hingga sang Muslimah akhirnya bisa dibebaskan. Allahu Akbar!
Sejak Dahulu Kaum Muslimin Wajib Dibela!
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, dikisahkan ada seorang tukang emas Yahudi Bani Qainuqa menganiaya kehormatan seorang Muslimah dengan mengikat pinggir bajunya sehingga menyebabkan tubuhnya tersingkap. Saat itu, seorang pria Muslim kebetulan berada di sana dan membunuh orang Yahudi itu. Kemudian orang-orang Yahudi membalas dengan membunuh orang muslim itu. Keluarga pria itu memanggil kaum Muslimin untuk membantu dan Nabi SAW., mengirimkan pasukan melawan mereka dan setelah 15 hari pengepungan seluruh suku Bani Qainuqa diusir dari Madinah. Subhanallah!
Di masa Khalifah Umar bin Abdul-Aziz, beliau pernah mengirim surat kepada para tahanan perang Muslim di Konstantinopel. Beliau mengatakan kepada mereka:
"Kamu menganggap dirimu sebagai tahanan perang. Padahal kamu bukan tahanan perang. Kamu terkunci di jalan Allah. Aku ingin kamu tahu bahwa setiap kali aku memberikan sesuatu kepada kaum Muslim, aku memberikan lebih banyak untuk keluarga kamu dan aku mengirimkan sekitar 5 dinar untuk setiap salah satu dari kamu dan seandainya bukan karena aku takut bahwa diktator Romawi akan mengambilnya dari kalian, aku akan mengirimkan lebih. Aku juga telah mengirim banyak untuk menjamin pembebasan setiap salah satu dari kalian tanpa memikirkan berapa biayanya. Jadi bersukacitalah! Assalamu Alaikum. "
Dimanakah Al-Mu'tasim Hari Ini? 
Kini, berapa banyak Muslimah yang dilecehkan kehormatannya oleh kuffar ? Berapa banyak Muslimah yang berteriak meminta tolong dari kedzoliman yang dideritanya? Berapa banyak kaum Muslimin yang ditawan pemerintahan kafir maupun pemerintahan murtad ? Bukankah sudah terdengar teriakan mereka dari penjara di Guantanamo (Cuba), Abu Gharib (Irak), Bagram (Afghanistan), Gaza (Palestina) Nusa Kambangan (Indonesia), dan penjara-penjara Amerika dan Inggris di seluruh dunia. Dimanakah Al-Mu'tasim hari ini?
Bukankah saudari Muslimah kita Afia Siddiqui sudah berteriak meminta pertolongan dari penjara pemerintahan Pakistan? Juga saudara Muslimah kita, Putri Munawaroh berteriak meminta pertolongan dari kedzoliman penjara Mako Brimob?
Bukankah Rasulullah SAW., bersabda,
"Berikanlah makan pada seseorang yang merasa lapar, kunjungilah seseorang yang sakit dan bebaskanlah seseorang yang ditawan."
Beliau SAW., juga bersabda,
"Adalah sebuah kewajiban bagi Muslim dari harta mereka untuk membebaskan orang-orang yang berada dalam tahanan dan membayar  tebusan."
Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,
"Jika mereka menahan seorang Muslim, adalah sebuah kewajiban kita untuk tetap memerangi mereka sampai mereka membebaskan mereka atau mereka di musnahkan,"
dan dia juga berkata,
"Membebaskan Muslim dari tahanan adalah salah satu kewajiban yang besar dan membelanjakan kekayaan untuk membebaskan mereka adalah salah satu bentuk mendekatkan diri kepada Allah yang paling baik."
Sahabat Umar Ibnu Khattab RA berkata,
 "Bagiku membebaskan seorang Muslim yang berada ditangan Musyirikin lebih aku sukai daripada seluruh Jazirah Arab." (Shahih Shahabi Jilid. 3).
Sejarah Islam telah menorehkan dengan tinta emas kisah-kisah heroik dan tauladan abadi dari mereka-mereka yang membela kehormatan kaum Muslimin yang ditawan musuhnya. Khalifah al-Mu'tasim adalah salah satu contoh yang paling fenomenal dalam menanggapi panggilan seorang Muslimah yang didzolimi kaum kafir. Kini, kaum Muslimin di pelbagai penjuru dunia banyak dilecehkan dan ditawan di banyak penjara kaum kuffar. Lalu, dimanakah al-Mutasim hari ini?
Wallahu'alam bis showab!
(M Fachry/arrahmah.com)
Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...


Source: http://arrahmah.com/index.php/blog/read/9003/dimanakah-al-mutasim-hari-ini#ixzz10gksStO0








Pejabat Vatikan : Segera Punya Banyak Anak dan Kembali ke Gereja, atau Eropa Akan Menjadi Islam

VATIKAN - Eropa akan berkembang lebih Islami jika orang Kristen Eropa tidak mulai memiliki anak bayak dan kembali ke gereja, kata seorang pejabat senior Vatikan bulan ini. Mgr Piero Gheddo, seorang misionaris dan pejabat Kepausan Vatikan untuk Institute Misi Asing mengatakan kepada kantor berita Zenit bahwa penduduk asli Eropa telah meninggalkan agama Kristen dan menjadi "paganis"/ penyembah berhala.

"Faktanya adalah bahwa orang-orang menjadi semakin kafir dan kevakuman agama pasti akan diisi oleh kekuatan agama lain," kata Mgr Gheddo yang juga pendiri AsianNews, kantor berita misionaris Kristen. Disaat praktik agama Kristen berkurang di Eropa, "ketidakpedulian menyebar, Kristen dan gereja mulai diserang."

"Jika kita menganggap diri kita sebuah negara Kristen, maka kita harus kembali ke praktek kehidupan Kristen yang juga akan memecahkan masalah dari buaian yang kosong."

Gheddo menunjuk statistik demografis yang menunjukkan bahwa populasi asli Italia mengalami penurunan sebesar 120.000 atau 130.000 per tahun "karena aborsi dan broken home." Pada saat yang sama, 200.000 imigran legal pindah ke Italia selama kurun waktu satu tahun. Dan lebih dari separuhnya adalah Muslim yang terus memiliki keluarga besar dan sekarang Italia menjauhkan diri.

"Koran dan televisi tidak pernah membahas ini," katanya.

Gheddo menanggapi ejekan pemimpin Libya Moammar Ghadafi yang membuat banyak orang marah setelah dalam kunjungan resminya ke Italia ia mengatakan bahwa Eropa harus masuk Islam. Dia memberikan kuliah kepada 500 wanita muda yang ia bayar untuk menghadiri kuliah itu. Dan Ghadafi mendesak para wanita itu untuk masuk Islam dan menawarkan para suami Muslim di Libya. Pernyataan Gadhafi ini dikecam oleh uskup Agung Robert Sarah, sekretaris Kongregasi Vatikan untuk Evangelisasi Masyarakat, yang menyebutnya sebagai "provokasi."

"Tidak ada surat kabar - kecuali Avvenire, surat kabar Konferensi Episkopal Italia yang telah serius mempertimbangkan bagaimana menanggapi tantangan dari Islam ini, yang cepat atau lambat akan menaklukkan mayoritas Eropa," katanya.

Survei terbaru yang dilakukan di Italia oleh Keuskupan Katolik setempat telah menemukan jumlah yang menunjukkan bahwa angka 30 persen yang dipaparkan adalah menipu. Di Venesia, ditemukan bahwa jumlah yang benar-benar hadir di gereja hanya 18 persen dan angka ini drop secara dramatis di kalangan muda-mudi Italia.

Seorang penulis, Piero Gheddo yang telah menulis lebih dari 80 buku kondisi orang di negara berkembang, dalam posting di blog nya baru-baru ini mengatakan ia "mengecam penutupan fasilitas pemuda Kristen dan gereja-gereja  dan kemerosotan sekolah dan kehidupan keluarga akibat tingginya perceraian di Italia," Piero Gheddo menyebut dirinya sebagai "wartawan misionaris."

"Obat-obatan, alkohol, seks bebas dan musik psychedelic yang didengarkan selama berjam-jam pada volume tinggi adalah beberapa 'hiburan' anak-anak itu yang dicari dan diperbolehkan, kadang-kadang didorong dan dibiayai oleh pemerintah daerah."

"Semua ini adalah buah dari peradaban kita yang semakin jauh dari Tuhan dan  pendidikan kepada anak muda," tutupnya.

Jadi slogan bahwa Eropa menuju Islam itu apakah benar akan terwujud nanti? [muslimdaily.net/lifesitenews]

Sampaikan Walau Satu Ayat


Begitu banyak contoh buruk berseliweran. Artis-artis dengan bangga bermaksiat. Menebar virus-virus pornoaksi dan pornografi. Mungkin karena apes atau sekadar mencari sensasi.  Di saat yang sama ada yang bangga dengan gaya hidup hedonismenya. Tertangkap membawa narkotika atau malah bergaul bebas. Negeri ini semakin lama semakin ngeri. Banyak penghuninya sudah tidak tahu diri. Berasyik masyuk dengan kemaksiatan atas nama eksistensi diri.
Semakin banyak orang yang mudah putus asa. Ditayangkan di media massa. Bunuh diri, membuang anak sendiri atau bahkan menyiksa buah hati atas nama depresi. Berita yang diulang-ulang, sehingga menjadi semacam motivasi. Sementara pasar sama sekali tidak tertarik dengan renungan keislaman, mengarahkan kepada kebijaksanaan hidup dan indahnya norma Islam. Pasar lebih suka teladan yang tidak bermoral atau bermoral rendah. Karena itulah dunia hiburan yang sarat dengan hal-hal berupa kesenangan.
Terwujudlah kini masyarakat yang minim moralitas. Sesak dengan tugas dan pekerjaan yang menyita hati. Shalat tidak ada lagi, doa jarang sekali. Dunia dan segala keangkuhannya telah menyibukkan diri. Maka jarang sekali orang bicara tentang bagaimana iman saya hari ini. Jarang sekali orang meminta, tolong nasihati saya, saya sedang lemah iman. Tak ada, bahkan sama sekali tidak pernah ada.
Gelombang materialisme membuat manusia abad ini mulai tidak lagi peduli dengan agama. Kebutuhan hidup yang mencekik leher, biaya kesehatan yang mahal dan gaya hidup yang semakin permisif dan hedonis, membuat kerinduan pada Islam memudar. Kalaulah hari ini ada, pasti jumlahnya sama sekali tidak berimbang dengan jumlah masyarakat sebenarnya.
Generasi tuanya tidak mau membina, sementara remajanya lelap dalam tidur panjangnya. Tidak tergugah untuk mencintai Islam dan memperjuangkannya. Tetapi justru memilih diam dalam ketidakberdayaan, acuh dan cuek dengan kondisi sekitar. "Yang penting saya senang, urusan yang lain itu tidak penting..."
Fakta ini membuat kita mengelus dada. Karena jelas ini adalah bagian dari tanda tanda merosotnya moralitas kita. Ketua Umum MUI, KH Sahal Mahfudz bahkan menilai ada suatu hal yang jalan di tempat, bahkan mundur, yakni akhlak dan jati diri bangsa. Menurutnya salah satu bukti bahwa akhlak mengalami kemunduran adalah masih adanya perilaku korupsi dan suap, juga beredarnya tayangan video porno dan maraknya maksiat di tengah masyarakat.
Berkontribusilah...
Saatnya setiap muslim menjadi da'i yang menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. Lakukan apa yang bisa kita lakukan, Berdakwah dengan kapasitan yang kita miliki. Ajaklah teman dan saudara untuk berbincang masalah hati dan iman. Sudah sebaik apa mereka memperhatikan imannya. Sudah sejauh apa perbaikan yang selama ini mereka lakukan. Ajak dan teruslah mengajak. Karena dengan begitu mereka akan mulai sadar dan memperhatikan kondisi iman mereka.
Anda yang bekerja di kantor, ajaklah teman kantor anda untuk selalu shalat pada waktunya. Anda yang menjadi guru, ajaklah murid-murid anda untuk selalu menjaga shalatnya. Sedangkan anda yang berprofesi sebagai pengusahan, ajaklah pelanggan anda untuk selalu memperhatikan shalatnya. Karena shalat tiang agama. Dengungkan syariat di mana pun kita berada. Karena seribu dimulai dari satu. Kalau satu saja tidak dilakukan, maka bagaimana kita bisa menghasilkan seribu? [muslimdaily.net]

Kronologis Penyerbuan Densus 88 Biadab Habisi jama'ah yang sedang sholat


(Arrahmah.com) - Nama saya Kartini Panggabean, kelahiran 20 Februari 1980. Panggilan saya Cici, anak-anak memanggil saya Ummi. Saya adalah isteri dari Ustadz Ghozali, anak-anak memanggilnya Buya, saya memanggilnya Bang Jali. Saya tinggal bersama suami saya di di Jalan Bunga Tanjung Gang Sehat, saya bersama Bang Jali tinggal bersama empat anak kami. (Umar Shiddiq, Raudah Atika Husna dan Ahmad Yasin dan Fathurrahman).
Bang Jali lahir tahun 1963, tamat SD 1971. Kemudian bang Jali Masuk SMP Muhammadiyah di Sei. Sikambing Medan. Bang Jali tidak tamat SMP, berhenti karena protes terhadap sekolah SMP di Indonesia memakai celana pendek (tidak menutup aurat)   Secara otodidak Bang Jali belajar menulis. Dia menjadi kolumnis tetap di beberapa surat kabar yang terbit di Medan. Kemudian Bang Jali ke Malaysia selama 10 tahun. Aktif menjadi wartawan di majalah Islam. Tahun 1996-2000 bang Jali pulang ke Indonesia menetap di Medan membuka kursus komputer, kemudian ke Malaysia lagi  pada tahun 2000-2004 bekerja sebagai penulis buku di beberapa penerbitan. Sejak 2004-2010 menetap di Tanjungbalai sebagai penulis buku-buku agama yang produktif dan semua diterbitkan di Malaysia, lebih kurang 50 judul buku. Ada satu judul buku yang diterbitkan di di Indonesia Selain menulis, Bang Jali juga berprofesi sebagai pengobat tradisional (bekam). Bang Jali juga mengisi pengajian.
Sejak satu bulan terakhir (bulan Agustus 2010), Bang Jali tidak pergi ke mana-mana, atas permintaan saya selaku Ummi anak-anak, alasan saya karena saya sedang hamil tua, hari-hari menjelang persalinan sudah kian dekat. Saya meminta Bang Jali untuk menemani saya melahirkan. Begitu pun, seingat saya Bang Jali sekali ada pergi ke Medan awal Agustus ke Medan, itu pun karena menjenguk ibunya di salah satu rumah sakit di Medan. Saya melahirkan anak putera saya yang keempat pada tanggal 28 Agustus 2010 (usianya 3 minggu).
Sejak saya melahirkan bayi yang kami beri nama Fathurrrahman Ramadhan itu, Bang Jali juga tidak ada pergi ke mana-mana karena saya tidak ada teman di rumah.
Di saat  waktu Maghrib, hari Minggu sekitar jam 18.45 WIB menjelang Senin malam, tanggal 19 September 2010. Saya, bayi saya, dua perempuan dewasa (istri Abu dan teman Deni), Buya, Dani, Deni, Alek, Abdullah dan 2 orang lagi anak tamu.(salah satu dari dua perempuan dewasa). Jadi, ada di dalam rumah tersebut 10 orang, terdiri dari 5 laki-laki dewasa, 3 perempuan dewasa, 3 anak-anak. Saat adzan Maghrib terdengar, Bang Jali bersiap-siap melaksanakan sholat Maghrib berjamaah. Bang Jali, Deni, Deden, Alek, Abu mengambil wudhu. Saya bilang kepada Bang Jali, Buya bajunya diganti saja, basah kena air wudhu. Saya berada di ruang tamu, menyusukan anak saya Fathur.
Bersama saya dua perempuan dewasa. di dekat pintu depan rumah, pintu rumah kami hanya di depan, rumah kami tidak ada pintu belakang. Saya memanggil ketiga anak untuk pulang ke rumah, karena sudah masuk waktu Maghrib. Bang Jali dan empat temannya mulai melaksanakan sholat Maghrib berjamaah dengan Bang Jali sebagai imamnya. Mereka sholat di ruang belakang dekat dapur.
Dani, usianya sekitar dua puluh lima tahun tahun adalah murid mengaji Bang Jali. Kerjanya sehari-hari menjahit gorden, dia tinggal di Tanjung Balai. Dani membawa dua orang temannya, Alek (30 tahun) dan Deni (20 tahun)  ke rumah. Bang Jali sebelumnya tidak mengenal kedua orang itu. Sejak saat itu, Deni dan Alek menginap di rumah. Tapi Dani tidak menginap di rumah. sedangkan alek dan deni saya tidak mengenalnya.  Mengenai Abu, atau Abdullah (35 tahun), saya tidak jelas orang mana berasalnya. Jadi Deni dan Alek sudah menginap 2 minggu di rumah kami, kedatangan mereka ke Tanjungbalai karena rencana mau cari kerja, saat itu mau hari hari raya. Bang Jali bilang ini sudah dekat hari raya, tidak mungkin ada kerjaan. Tunggulah habis hari raya. Jadi mereka di rumah kerjanya hanya makan tidur. Seingat saya selama ini tidak ada kegiatan yang mencurigakan.
Tiba-tiba sebuah mobil datang, terdengar suara dari luar ada orang berteriak, "keluar!" Saat itu ketiga anak saya masih bermain di rumah tetangga. Saya mau memanggil anak-anak untuk pulang, saya pun berjalan menuju pintu depan rumah. Saya menyuruh mereka masuk, tapi mereka tidak mau masuk, saya sempat melihat wajah mereka seperti ketakutan. Saya terkejut karena pas saya di depan pintu saya lihat sudah turun dari mobil 30 orang bersenjata. Anak-anak saya diam tak bersuara. Densus 88 langsung saja menerobos masuk ke dalam rumah dengan bersenjata. Mereka semuanya ada sekitar 30 orang membawa senjata. Mereka dari samping sebagian, masuk ke dalam rumah sebagian, sambil melepaskan tembakan.
Saya sambil menggendong bayi saya, dua perempuan dewasa serta anak-anaknya ditodongkan senjata sama Densus 88. Sepasang daun pintu rumah kami ditunjang (ditendang) sama Densus 88. Tidak ada baku tembak, tidak ada perlawanan dari dalam rumah, karena Bang Jali sedang sholat, sedang membaca surah al-Qur'an sehabis membaca surah al-Fatihah. Tiba-tiba tiga makmum (Alek, Deni dan Dani) keluar dari shaff (membatalkan sholat mereka) karena mendengar suara ribut tembakan dan segera mengetahui datangnya orang-orang bersenjata. Alek, Dani dan Deni lari menuju kamar mandi. Alek keluar dengan membobol seng (atap) kamar mandi. Orang-orang yang sudah masuk rumah menembaki mereka Deni dan Dani ditembaki secara membabi buta sewaktu mereka di depan kamar mandi.
Saya, dua perempuan dewasa yang bersama saya, bayi saya yang berumur 20 hari, dan anak tetangga yang balita itu menyaksikan kejadian  itu. Jadi dua orang ditembak di kamar mandi, satu orang lagi lari. Bang Jali dan seorang makmumnya, Abu masih tetap melanjutkan sholat, walaupun orang-orang bersenjata itu sudah masuk ke dalam rumah, di ruang belakang dekat dapur. Bang Jali tetap melanjutkan membaca surah al-Qur'an. Tapi orang-orang bersenjata itu langsung menarik paksa Bang Jali, sholat Bang Jali dihentikan secara paksa. Buya ditunjangi (ditendang) saat sholat kemudian dipijak-pijak (diinjak-injak) hingga babak belur. Saya kasihan melihat Bang Jali karena saat itu dia sedang sakit batuk. Bang Jali diseret sama Densus, bang Jali tak henti-hentinya meneriakkan takbir, Allahu Akbar, Allahu akbar.
Saya masih dalam todongan senjata bersama dua perempuan dan tiga anak-anak. Kami langsung disuruh ke rumah tetangga sambil ditodong. Saya digiring ke rumah tetangga sambil ditodong senjata, di rumah tetangga. Anak-anak saya dari tadi memang berada di situ. Saya dan anak-anak saya bisa mengintip (melihat dari sela-sela atau lobang) kejadian yang terjadi di rumah kami dari rumah tetangga. Anak-anak saya berteriak-teriak tidak tak henti-hentinya. "Ummi, Ummi itu Buya, itu Buya." Anak-anak memberitahu saya mereka melihat Buya mereka dipijak-pijak (diinjak-injak). Mereka menembaki rumah kami dengan membabi buta, walaupun saya sangat yakin Bang Jali tidak ada senjata. Bang Jali hanya terus bertakbir, Allahu akbar, hanya itu yang bisa Bang Jali lakukan. Mereka menembaki saja walau tidak ada perlawanan. Dari luar mereka menembaki, di dalam juga menembaki, mereka dalam waktu satu jam itu menembak terus dengan membabi buta.
Tiba-tiba ada yang menggiring saya keluar, saya dibawa ke mobil Densus 88. Saya terus menengok (melihat) ke arah Bang Jali tapi sudah tidak terlihat. Saya tengok (lihat) suami kawan saya (Abu) dibawa ke mobil tak berapa lama. Densus membentak saya menanya saya di mana tas Bang Jali. Saya jawab (katakan), "Tengok saja sendiri." Mereka semua penakut, saya yang disuruh mengambil tas Bang Jali, mereka takut granat, padahal tidak apa-apa di tas Bang Jali.
Satu jam kemudian polisi (dari Polresta Tanjung Balai) datang ke sana, polisi pun rupanya tahu apa-apa mengenai kejadian itu. Densus pergi begitu saja.  Saya tidak tahu informasi ke mana Bang Jali dibawa, apakah Bang Jali dibawa ke Medan atau ke mana. Dari pihak Polres malah menanyakan sama saya ke mana Bang Jali dibawa Densus. Saya dinaikkan ke mobil Patroli Polresta Tanjungbalai dibawa ke kantor Polresta Tanjungbalai. Saya tidak dikasih pulang ke rumah.
Esok hari, tanggal 20 September, saya masih tidak dikasih pulang. Sebagian besar anggota Polres Tanjung Balai memperlakukan saya dengan baik, mereka kasihan melihat saya karena menengok anak saya kecil (bayi), tapi ada juga polisi di sini yang jahat dan memperlakukan saya sewenang-wenang. Saya ingin tahu kabar suami saya. Saya lihat ada koran, saya ambil untuk saya baca. Polisi berpakaian preman itu merampas koran itu dari tangan saya. Hati saya sangat sakit, tapi saya diam saja. Kapolresta baik sama saya. Dia menanyakan saya, apakah mau pulang ke rumah mengambil baju? Saya sudah bilang sama penyidik cemana ini, Pak, kalau saya masuk tahanan jelas status saya, tapi di sini saya tidak jelas sebagai apa, saya tidak tahu apa-apa. Kata penyidik tunggu kabar dari Medan saja, baru saya kasi informasi di sini.
Saya sedih karena Bang Jali tak bisa dijumpai, karena dia sudah babak belur dipijak-pijak dua puluhan orang. Mereka main serbu saja, mereka itu begitu datang tak ada basa-basi lagi. Dinding rumah kami rusak. Polisi pun tidak boleh lewat-lewat di situ selama satu jam itu. Padahal kan semua pakai peraturan.  Polresta Tanjungbalai membantu saya mempertemukan saya dengan keluarga saya agar anak-anak saya yang empat orang tidak tinggal di tahanan. Saya dipinjamkan telepon sama Polisi untuk menelepon adiknya agar saya bisa menitipkan anak-anak saya kepada keluarga kecuali yang bayi tetap bersama saya, karena dia masih saya susukan umurnya kan baru 3 Minggu.
Pada 20 September 2010 sekitar jam 9.00 WIB pagi saya pertama kali menghubungi keluarga. Saya mengasih tahu, saya sekarang di Polresta Tanjung Balai, tidak boleh keluar dari sini karena saya kata polisi dijadikan saksi. Adik saya ke ke Tanjung Balai hari Senin, 20 September itu juga, adik saya menjenguk saya. Kondisi saya sudah beberapa hari tetap tak jelas, tidak dikasih pulang, padahal saya sudah di BAP hari Minggu sampai sekarang tidak keluar-keluar. Tidak jelas, tidak boleh pulang, soalnya tidak ada yang mau datang menjenguk saya, adik saya pun hanya datang untuk mengambil si Umar, dibawa ke sana, kasihan bang Jali. Di sini saya bayi saya tidur dan hidup di sebuah ruangan yang menyerupai gudang kertas-kertas, hanya beralas tikar plastik, kasihan Fathur (bayi saya), baru 3 minggu usianya. []
Narasumber: Kartini Panggabean (semoga Allah melindunginya), istri ustadz Khairul Ghozali (semoga Allah merahmatinya) yang dituduh sebagai teroris oleh Densus 88.
Sumber: - Tim Kuasa Hukum Ustadz Khairul Ghozali, - keluarga, yakni adik Ustadz Khairul Ghozali (Ustadz DR. Adil Akhyar, SH, MH, LLM dan Ahmad Sofian, SH, MA serta abang Ustadz Khairul Ghozali, DR.Ikhwan)   Facebook: Widyasave Palestina, starnews.com
(suara-islam/arrahmah.com)
Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...


Source: http://arrahmah.com/index.php/news/read/9277/kronologis-penyerbuan-densus-88-biadab-habisi-jamaah-sedang-shalat#ixzz10eglMqoO

Sabtu, 25 September 2010

Sharia4Indonesia Jatim : Deklarasi & Aksi Bakar Bendera AS di Jombang




Jombang (Sharia4Indonesia) – Jum’at siang (24/9) Sharia4Jatim, cabang dari Sharia4Indonesia Jawa Timur melakukan deklarasi sekaligus aksi bakar bendera AS di Depan Gedung DPR Jombang. Dalam orasinya Ustadz Abu Abdillah menyerukan penerapan syariat Islam secara kaafah. Allahu Akbar!
Bendera Tauhid Berkibar Di Jombang
Siang itu, Jum’at (24/9/2010) sekitar pukul 13.30 WIB, komunitas Islam yang tergabung dalam Sharia4Jatim, bagian dari Sharia4indonesia Jawa Timur, dengan membawa bendera tauhid “Laa ilaha illallah Muhammadarrasulullah” mendeklarasikan keberadaan mereka sekaligus melakukan orasi merespon aksi pembakaran Al-Qur’an yang dilakukan di beberapa tempat di AS oleh orang-orang kafir.
Gema takbir dan kalimat tauhid seakan menggetarkan kota Jombang yang dikenal sebagai kota yang melahirkan banyak tokoh-tokoh kontroversial mulai dari Nurkholis Majid, Abdurrahman Wahid hingga Ustad Abu Bakar Ba’asyir.
Aksi Sharia4Jatim ini mengambil tempat di depan Gedung DPRD Jombang, Jalan Wachid Hasyim, Jombang, Jawa Timur. Puluhan aktivis Sharia4indonesia Jawa timur ini meneriakkan takbir dan tahlil dengan membawa bendera tauhid “Laa ilahailallah Muhammadarrasulullah” serta spanduk berukuran 3 meter bertuliskan Sharia4indonesia Jawa Timur.
Ingin Menang & Jaya, Tegakkan Syariat Islam,
Orasi dibuka oleh Abu Falih dengan diawali mengutip Surat At-Taubah ayat 33.
“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.”
Setelah itu, orasi dilanjutkan dengan mengatakan bahwa aksi yang dilakukan oleh orang-orang kafir dengan membakar Al-Qur’an adalah sebuah simbolisasi yang ingin mereka sampaikan kepada kaum muslimin di dunia, bahwa orang-orang kafir sesungguhnya sangat benci kepada muslim radikal. Karena muslim radikal menurut definisi mereka adalah mereka-mereka kaum muslimin yang ingin menerapkan Al-Qur’an sebagai undang-undang dan aturan di seluruh kehidupan dunia ini.
Orasi berikutnya disampaikan oleh Ustadz Abu Abdillah yang saat itu mengenakan gamis panjang berwarna hijau. Pada bagian awal beliau menyampaikan bahwa apa yang dilakukan oleh sharia4indonesia Jawa Timur pada saat itu adalah sebagai dari bentuk amar ma’ruf nahi munkar yang harus dilakukan oleh seluruh kaum muslimin.
Selanjutnya Ustad Abu Abdillah menyerukan pada kaum muslimin untuk melek dan bangkit dengan melihat kenyataan bahwa sesungguhnya Islam dan kaum muslimin telah dihinakan di seluruh dunia, dengan aksi pembakaran Al-Qur’an di beberapa tempat sebagai bagian bentuk penghinaan tersebut.
Ustadz Abu Abdillah menyerukan agar umat tidak meninggalkan Dakwah dan Jihad jika Islam ingin jaya. Kesempata selanjutnya beliau menyerukan penguasa negeri ini agar tunduk dan menerapkan syari’at Islam, disusul dengan kecaman terhadap kepolisian yang telah menahan beberapa aktivis Islam seperti Ustad Abu Bakar Ba’asyir, Ustad  Aman Abdurrahman, dan lainnya secara dzolim dan mununtut agar mereka dibebaskan.
Orasi yang berlangsung sekitar 30 menit ini diakhiri dengan aksi pembakaran bendera Amerika Serikat, karena AS adalah akar kemusyrikan dan pimpinan para thoghut di dunia. Demokrasinya yang nota bene adalah idiologi syirik telah merampas hak Allah Ajja wa Jalla sebagai Sang Pembuat Hukum digantikan oleh para anggota legislatif. Lebih jauh lagi, Amerika atas nama demokrasi dan kebebasan telah melakukan penjajahan dan pembunuhan jutaan kaum muslimin di seluruh dunia.
Aksi bakar bendera diakhiri dengan pembacaan do’a oleh Ustadz Abu Abdilah agar Allah membarikan kemenangan pada kaum muslimin, dapat diterapkannya syariah Islam di seluruh dunia serta mohon kepada pertolongan Allah agar selalu memenangkan mujahidin di seluruh belahan dunia. Amien Ya Robbal Alamien!

(Talazum/Sharia4Indonesia)