Minggu, 26 September 2010

Dimanakah Al-Mu’tasim sang pembela sejati bagi kaum tertindas Hari Ini?


Dahulu, di masa keemasan Islam, ada seorang teladan abadi sepanjang masa. Dia adalah khalifah al-Mu'tasim, khalifah Bani Abbasiyah (833-842 Masehi). Dialah yang menyambut seruan seorang muslimah yang dilecehkan tentara Romawi dengan mengirimkan pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah dan melibas seluruh tentara kafir Romawi di sana hingga bebaslah sang muslimah tadi dari tawanan Romawi. Kini, ketika ribuan muslimah dan muslim ditawan tentara-tentara kafir, dimanakah Al-Mu'tasim hari ini?
Teladan Heroik Pejuang Muslim
Kisah heroik Al-Mu'tashim dicatat dengan tinta emas sejarah Islam dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn Al-Athir. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tahun 223 Hijriyyah, dalam judul Penaklukan kota Ammuriah.
Ketika itu, al-Mu'tasim, khalifah di masa Bani Abbasiyah, sedang memegas gelas untuk minum ketika didengarnya seorang muslimah dilecehkan oleh tentara Romawi. Khalifah pun langsung berseru kepada panglima perangnya agar bersiap menuju Ammuriah, tempat dimana muslimah tersebut berteriak meminta tolong.
Konon, muslimah itu keturunan Bani Hashim dan sedang berbelanja di sebuah pasar di kawasan negeri di bawah kekuasaan Romawi, di utara benua Asia, yakni tepatnya di kota Ammuriah, kawasan Turki hari ini. Di saat sedang berjalan itulah, sang muslimah diganggu oleh seorang lelaki Romawi dengan menyentuh ujung jilbabnya hingga dia secara spontan berteriak : "Wa Mu'tashamah....!!!" Yang juga berarti "Dimana kau Mu'tasim...Tolonglah Aku"
Teriakan muslimah tersebut akhirnya sampai ke telinga Khalifah al-Mu'tasim. Puluhan ribu tentara pun digelar mulai dari gerbang ibukota di Baghdad hingga ujungnya mencapai kota Ammuriah. Pembelaan kepada muslimah ini sekaligus dimaksudkan oleh khalifah sebagai pembebasan Ammuriah dari jajahan Romawi.
Catatan sejarah menyatakan bahwa ribuan tentara Muslim bergerak di bulan April, 833 Masehi dari Baghdad menuju Ammuriah. Kota Ammuriah dikepung oleh tentara Muslim selama kurang lebih lima bulan hingga akhirnya takluk di tangan Khalifah al-Mu'tasim pada tanggal 13 Agustus 833 Masehi.
Hanya seorang Muslimah yang dilecehkan kafir Romawi dan berteriak 'Wahai Mu'tasim" maka sang khalifah tersentuh hatinya dan terbakar ghiroh Islamnya sehingga dilancarkanlah serangan penaklukan ke Ammuriah hingga sang Muslimah akhirnya bisa dibebaskan. Allahu Akbar!
Sejak Dahulu Kaum Muslimin Wajib Dibela!
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, dikisahkan ada seorang tukang emas Yahudi Bani Qainuqa menganiaya kehormatan seorang Muslimah dengan mengikat pinggir bajunya sehingga menyebabkan tubuhnya tersingkap. Saat itu, seorang pria Muslim kebetulan berada di sana dan membunuh orang Yahudi itu. Kemudian orang-orang Yahudi membalas dengan membunuh orang muslim itu. Keluarga pria itu memanggil kaum Muslimin untuk membantu dan Nabi SAW., mengirimkan pasukan melawan mereka dan setelah 15 hari pengepungan seluruh suku Bani Qainuqa diusir dari Madinah. Subhanallah!
Di masa Khalifah Umar bin Abdul-Aziz, beliau pernah mengirim surat kepada para tahanan perang Muslim di Konstantinopel. Beliau mengatakan kepada mereka:
"Kamu menganggap dirimu sebagai tahanan perang. Padahal kamu bukan tahanan perang. Kamu terkunci di jalan Allah. Aku ingin kamu tahu bahwa setiap kali aku memberikan sesuatu kepada kaum Muslim, aku memberikan lebih banyak untuk keluarga kamu dan aku mengirimkan sekitar 5 dinar untuk setiap salah satu dari kamu dan seandainya bukan karena aku takut bahwa diktator Romawi akan mengambilnya dari kalian, aku akan mengirimkan lebih. Aku juga telah mengirim banyak untuk menjamin pembebasan setiap salah satu dari kalian tanpa memikirkan berapa biayanya. Jadi bersukacitalah! Assalamu Alaikum. "
Dimanakah Al-Mu'tasim Hari Ini? 
Kini, berapa banyak Muslimah yang dilecehkan kehormatannya oleh kuffar ? Berapa banyak Muslimah yang berteriak meminta tolong dari kedzoliman yang dideritanya? Berapa banyak kaum Muslimin yang ditawan pemerintahan kafir maupun pemerintahan murtad ? Bukankah sudah terdengar teriakan mereka dari penjara di Guantanamo (Cuba), Abu Gharib (Irak), Bagram (Afghanistan), Gaza (Palestina) Nusa Kambangan (Indonesia), dan penjara-penjara Amerika dan Inggris di seluruh dunia. Dimanakah Al-Mu'tasim hari ini?
Bukankah saudari Muslimah kita Afia Siddiqui sudah berteriak meminta pertolongan dari penjara pemerintahan Pakistan? Juga saudara Muslimah kita, Putri Munawaroh berteriak meminta pertolongan dari kedzoliman penjara Mako Brimob?
Bukankah Rasulullah SAW., bersabda,
"Berikanlah makan pada seseorang yang merasa lapar, kunjungilah seseorang yang sakit dan bebaskanlah seseorang yang ditawan."
Beliau SAW., juga bersabda,
"Adalah sebuah kewajiban bagi Muslim dari harta mereka untuk membebaskan orang-orang yang berada dalam tahanan dan membayar  tebusan."
Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,
"Jika mereka menahan seorang Muslim, adalah sebuah kewajiban kita untuk tetap memerangi mereka sampai mereka membebaskan mereka atau mereka di musnahkan,"
dan dia juga berkata,
"Membebaskan Muslim dari tahanan adalah salah satu kewajiban yang besar dan membelanjakan kekayaan untuk membebaskan mereka adalah salah satu bentuk mendekatkan diri kepada Allah yang paling baik."
Sahabat Umar Ibnu Khattab RA berkata,
 "Bagiku membebaskan seorang Muslim yang berada ditangan Musyirikin lebih aku sukai daripada seluruh Jazirah Arab." (Shahih Shahabi Jilid. 3).
Sejarah Islam telah menorehkan dengan tinta emas kisah-kisah heroik dan tauladan abadi dari mereka-mereka yang membela kehormatan kaum Muslimin yang ditawan musuhnya. Khalifah al-Mu'tasim adalah salah satu contoh yang paling fenomenal dalam menanggapi panggilan seorang Muslimah yang didzolimi kaum kafir. Kini, kaum Muslimin di pelbagai penjuru dunia banyak dilecehkan dan ditawan di banyak penjara kaum kuffar. Lalu, dimanakah al-Mutasim hari ini?
Wallahu'alam bis showab!
(M Fachry/arrahmah.com)
Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...


Source: http://arrahmah.com/index.php/blog/read/9003/dimanakah-al-mutasim-hari-ini#ixzz10gksStO0








Pejabat Vatikan : Segera Punya Banyak Anak dan Kembali ke Gereja, atau Eropa Akan Menjadi Islam

VATIKAN - Eropa akan berkembang lebih Islami jika orang Kristen Eropa tidak mulai memiliki anak bayak dan kembali ke gereja, kata seorang pejabat senior Vatikan bulan ini. Mgr Piero Gheddo, seorang misionaris dan pejabat Kepausan Vatikan untuk Institute Misi Asing mengatakan kepada kantor berita Zenit bahwa penduduk asli Eropa telah meninggalkan agama Kristen dan menjadi "paganis"/ penyembah berhala.

"Faktanya adalah bahwa orang-orang menjadi semakin kafir dan kevakuman agama pasti akan diisi oleh kekuatan agama lain," kata Mgr Gheddo yang juga pendiri AsianNews, kantor berita misionaris Kristen. Disaat praktik agama Kristen berkurang di Eropa, "ketidakpedulian menyebar, Kristen dan gereja mulai diserang."

"Jika kita menganggap diri kita sebuah negara Kristen, maka kita harus kembali ke praktek kehidupan Kristen yang juga akan memecahkan masalah dari buaian yang kosong."

Gheddo menunjuk statistik demografis yang menunjukkan bahwa populasi asli Italia mengalami penurunan sebesar 120.000 atau 130.000 per tahun "karena aborsi dan broken home." Pada saat yang sama, 200.000 imigran legal pindah ke Italia selama kurun waktu satu tahun. Dan lebih dari separuhnya adalah Muslim yang terus memiliki keluarga besar dan sekarang Italia menjauhkan diri.

"Koran dan televisi tidak pernah membahas ini," katanya.

Gheddo menanggapi ejekan pemimpin Libya Moammar Ghadafi yang membuat banyak orang marah setelah dalam kunjungan resminya ke Italia ia mengatakan bahwa Eropa harus masuk Islam. Dia memberikan kuliah kepada 500 wanita muda yang ia bayar untuk menghadiri kuliah itu. Dan Ghadafi mendesak para wanita itu untuk masuk Islam dan menawarkan para suami Muslim di Libya. Pernyataan Gadhafi ini dikecam oleh uskup Agung Robert Sarah, sekretaris Kongregasi Vatikan untuk Evangelisasi Masyarakat, yang menyebutnya sebagai "provokasi."

"Tidak ada surat kabar - kecuali Avvenire, surat kabar Konferensi Episkopal Italia yang telah serius mempertimbangkan bagaimana menanggapi tantangan dari Islam ini, yang cepat atau lambat akan menaklukkan mayoritas Eropa," katanya.

Survei terbaru yang dilakukan di Italia oleh Keuskupan Katolik setempat telah menemukan jumlah yang menunjukkan bahwa angka 30 persen yang dipaparkan adalah menipu. Di Venesia, ditemukan bahwa jumlah yang benar-benar hadir di gereja hanya 18 persen dan angka ini drop secara dramatis di kalangan muda-mudi Italia.

Seorang penulis, Piero Gheddo yang telah menulis lebih dari 80 buku kondisi orang di negara berkembang, dalam posting di blog nya baru-baru ini mengatakan ia "mengecam penutupan fasilitas pemuda Kristen dan gereja-gereja  dan kemerosotan sekolah dan kehidupan keluarga akibat tingginya perceraian di Italia," Piero Gheddo menyebut dirinya sebagai "wartawan misionaris."

"Obat-obatan, alkohol, seks bebas dan musik psychedelic yang didengarkan selama berjam-jam pada volume tinggi adalah beberapa 'hiburan' anak-anak itu yang dicari dan diperbolehkan, kadang-kadang didorong dan dibiayai oleh pemerintah daerah."

"Semua ini adalah buah dari peradaban kita yang semakin jauh dari Tuhan dan  pendidikan kepada anak muda," tutupnya.

Jadi slogan bahwa Eropa menuju Islam itu apakah benar akan terwujud nanti? [muslimdaily.net/lifesitenews]

Sampaikan Walau Satu Ayat


Begitu banyak contoh buruk berseliweran. Artis-artis dengan bangga bermaksiat. Menebar virus-virus pornoaksi dan pornografi. Mungkin karena apes atau sekadar mencari sensasi.  Di saat yang sama ada yang bangga dengan gaya hidup hedonismenya. Tertangkap membawa narkotika atau malah bergaul bebas. Negeri ini semakin lama semakin ngeri. Banyak penghuninya sudah tidak tahu diri. Berasyik masyuk dengan kemaksiatan atas nama eksistensi diri.
Semakin banyak orang yang mudah putus asa. Ditayangkan di media massa. Bunuh diri, membuang anak sendiri atau bahkan menyiksa buah hati atas nama depresi. Berita yang diulang-ulang, sehingga menjadi semacam motivasi. Sementara pasar sama sekali tidak tertarik dengan renungan keislaman, mengarahkan kepada kebijaksanaan hidup dan indahnya norma Islam. Pasar lebih suka teladan yang tidak bermoral atau bermoral rendah. Karena itulah dunia hiburan yang sarat dengan hal-hal berupa kesenangan.
Terwujudlah kini masyarakat yang minim moralitas. Sesak dengan tugas dan pekerjaan yang menyita hati. Shalat tidak ada lagi, doa jarang sekali. Dunia dan segala keangkuhannya telah menyibukkan diri. Maka jarang sekali orang bicara tentang bagaimana iman saya hari ini. Jarang sekali orang meminta, tolong nasihati saya, saya sedang lemah iman. Tak ada, bahkan sama sekali tidak pernah ada.
Gelombang materialisme membuat manusia abad ini mulai tidak lagi peduli dengan agama. Kebutuhan hidup yang mencekik leher, biaya kesehatan yang mahal dan gaya hidup yang semakin permisif dan hedonis, membuat kerinduan pada Islam memudar. Kalaulah hari ini ada, pasti jumlahnya sama sekali tidak berimbang dengan jumlah masyarakat sebenarnya.
Generasi tuanya tidak mau membina, sementara remajanya lelap dalam tidur panjangnya. Tidak tergugah untuk mencintai Islam dan memperjuangkannya. Tetapi justru memilih diam dalam ketidakberdayaan, acuh dan cuek dengan kondisi sekitar. "Yang penting saya senang, urusan yang lain itu tidak penting..."
Fakta ini membuat kita mengelus dada. Karena jelas ini adalah bagian dari tanda tanda merosotnya moralitas kita. Ketua Umum MUI, KH Sahal Mahfudz bahkan menilai ada suatu hal yang jalan di tempat, bahkan mundur, yakni akhlak dan jati diri bangsa. Menurutnya salah satu bukti bahwa akhlak mengalami kemunduran adalah masih adanya perilaku korupsi dan suap, juga beredarnya tayangan video porno dan maraknya maksiat di tengah masyarakat.
Berkontribusilah...
Saatnya setiap muslim menjadi da'i yang menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. Lakukan apa yang bisa kita lakukan, Berdakwah dengan kapasitan yang kita miliki. Ajaklah teman dan saudara untuk berbincang masalah hati dan iman. Sudah sebaik apa mereka memperhatikan imannya. Sudah sejauh apa perbaikan yang selama ini mereka lakukan. Ajak dan teruslah mengajak. Karena dengan begitu mereka akan mulai sadar dan memperhatikan kondisi iman mereka.
Anda yang bekerja di kantor, ajaklah teman kantor anda untuk selalu shalat pada waktunya. Anda yang menjadi guru, ajaklah murid-murid anda untuk selalu menjaga shalatnya. Sedangkan anda yang berprofesi sebagai pengusahan, ajaklah pelanggan anda untuk selalu memperhatikan shalatnya. Karena shalat tiang agama. Dengungkan syariat di mana pun kita berada. Karena seribu dimulai dari satu. Kalau satu saja tidak dilakukan, maka bagaimana kita bisa menghasilkan seribu? [muslimdaily.net]

Kronologis Penyerbuan Densus 88 Biadab Habisi jama'ah yang sedang sholat


(Arrahmah.com) - Nama saya Kartini Panggabean, kelahiran 20 Februari 1980. Panggilan saya Cici, anak-anak memanggil saya Ummi. Saya adalah isteri dari Ustadz Ghozali, anak-anak memanggilnya Buya, saya memanggilnya Bang Jali. Saya tinggal bersama suami saya di di Jalan Bunga Tanjung Gang Sehat, saya bersama Bang Jali tinggal bersama empat anak kami. (Umar Shiddiq, Raudah Atika Husna dan Ahmad Yasin dan Fathurrahman).
Bang Jali lahir tahun 1963, tamat SD 1971. Kemudian bang Jali Masuk SMP Muhammadiyah di Sei. Sikambing Medan. Bang Jali tidak tamat SMP, berhenti karena protes terhadap sekolah SMP di Indonesia memakai celana pendek (tidak menutup aurat)   Secara otodidak Bang Jali belajar menulis. Dia menjadi kolumnis tetap di beberapa surat kabar yang terbit di Medan. Kemudian Bang Jali ke Malaysia selama 10 tahun. Aktif menjadi wartawan di majalah Islam. Tahun 1996-2000 bang Jali pulang ke Indonesia menetap di Medan membuka kursus komputer, kemudian ke Malaysia lagi  pada tahun 2000-2004 bekerja sebagai penulis buku di beberapa penerbitan. Sejak 2004-2010 menetap di Tanjungbalai sebagai penulis buku-buku agama yang produktif dan semua diterbitkan di Malaysia, lebih kurang 50 judul buku. Ada satu judul buku yang diterbitkan di di Indonesia Selain menulis, Bang Jali juga berprofesi sebagai pengobat tradisional (bekam). Bang Jali juga mengisi pengajian.
Sejak satu bulan terakhir (bulan Agustus 2010), Bang Jali tidak pergi ke mana-mana, atas permintaan saya selaku Ummi anak-anak, alasan saya karena saya sedang hamil tua, hari-hari menjelang persalinan sudah kian dekat. Saya meminta Bang Jali untuk menemani saya melahirkan. Begitu pun, seingat saya Bang Jali sekali ada pergi ke Medan awal Agustus ke Medan, itu pun karena menjenguk ibunya di salah satu rumah sakit di Medan. Saya melahirkan anak putera saya yang keempat pada tanggal 28 Agustus 2010 (usianya 3 minggu).
Sejak saya melahirkan bayi yang kami beri nama Fathurrrahman Ramadhan itu, Bang Jali juga tidak ada pergi ke mana-mana karena saya tidak ada teman di rumah.
Di saat  waktu Maghrib, hari Minggu sekitar jam 18.45 WIB menjelang Senin malam, tanggal 19 September 2010. Saya, bayi saya, dua perempuan dewasa (istri Abu dan teman Deni), Buya, Dani, Deni, Alek, Abdullah dan 2 orang lagi anak tamu.(salah satu dari dua perempuan dewasa). Jadi, ada di dalam rumah tersebut 10 orang, terdiri dari 5 laki-laki dewasa, 3 perempuan dewasa, 3 anak-anak. Saat adzan Maghrib terdengar, Bang Jali bersiap-siap melaksanakan sholat Maghrib berjamaah. Bang Jali, Deni, Deden, Alek, Abu mengambil wudhu. Saya bilang kepada Bang Jali, Buya bajunya diganti saja, basah kena air wudhu. Saya berada di ruang tamu, menyusukan anak saya Fathur.
Bersama saya dua perempuan dewasa. di dekat pintu depan rumah, pintu rumah kami hanya di depan, rumah kami tidak ada pintu belakang. Saya memanggil ketiga anak untuk pulang ke rumah, karena sudah masuk waktu Maghrib. Bang Jali dan empat temannya mulai melaksanakan sholat Maghrib berjamaah dengan Bang Jali sebagai imamnya. Mereka sholat di ruang belakang dekat dapur.
Dani, usianya sekitar dua puluh lima tahun tahun adalah murid mengaji Bang Jali. Kerjanya sehari-hari menjahit gorden, dia tinggal di Tanjung Balai. Dani membawa dua orang temannya, Alek (30 tahun) dan Deni (20 tahun)  ke rumah. Bang Jali sebelumnya tidak mengenal kedua orang itu. Sejak saat itu, Deni dan Alek menginap di rumah. Tapi Dani tidak menginap di rumah. sedangkan alek dan deni saya tidak mengenalnya.  Mengenai Abu, atau Abdullah (35 tahun), saya tidak jelas orang mana berasalnya. Jadi Deni dan Alek sudah menginap 2 minggu di rumah kami, kedatangan mereka ke Tanjungbalai karena rencana mau cari kerja, saat itu mau hari hari raya. Bang Jali bilang ini sudah dekat hari raya, tidak mungkin ada kerjaan. Tunggulah habis hari raya. Jadi mereka di rumah kerjanya hanya makan tidur. Seingat saya selama ini tidak ada kegiatan yang mencurigakan.
Tiba-tiba sebuah mobil datang, terdengar suara dari luar ada orang berteriak, "keluar!" Saat itu ketiga anak saya masih bermain di rumah tetangga. Saya mau memanggil anak-anak untuk pulang, saya pun berjalan menuju pintu depan rumah. Saya menyuruh mereka masuk, tapi mereka tidak mau masuk, saya sempat melihat wajah mereka seperti ketakutan. Saya terkejut karena pas saya di depan pintu saya lihat sudah turun dari mobil 30 orang bersenjata. Anak-anak saya diam tak bersuara. Densus 88 langsung saja menerobos masuk ke dalam rumah dengan bersenjata. Mereka semuanya ada sekitar 30 orang membawa senjata. Mereka dari samping sebagian, masuk ke dalam rumah sebagian, sambil melepaskan tembakan.
Saya sambil menggendong bayi saya, dua perempuan dewasa serta anak-anaknya ditodongkan senjata sama Densus 88. Sepasang daun pintu rumah kami ditunjang (ditendang) sama Densus 88. Tidak ada baku tembak, tidak ada perlawanan dari dalam rumah, karena Bang Jali sedang sholat, sedang membaca surah al-Qur'an sehabis membaca surah al-Fatihah. Tiba-tiba tiga makmum (Alek, Deni dan Dani) keluar dari shaff (membatalkan sholat mereka) karena mendengar suara ribut tembakan dan segera mengetahui datangnya orang-orang bersenjata. Alek, Dani dan Deni lari menuju kamar mandi. Alek keluar dengan membobol seng (atap) kamar mandi. Orang-orang yang sudah masuk rumah menembaki mereka Deni dan Dani ditembaki secara membabi buta sewaktu mereka di depan kamar mandi.
Saya, dua perempuan dewasa yang bersama saya, bayi saya yang berumur 20 hari, dan anak tetangga yang balita itu menyaksikan kejadian  itu. Jadi dua orang ditembak di kamar mandi, satu orang lagi lari. Bang Jali dan seorang makmumnya, Abu masih tetap melanjutkan sholat, walaupun orang-orang bersenjata itu sudah masuk ke dalam rumah, di ruang belakang dekat dapur. Bang Jali tetap melanjutkan membaca surah al-Qur'an. Tapi orang-orang bersenjata itu langsung menarik paksa Bang Jali, sholat Bang Jali dihentikan secara paksa. Buya ditunjangi (ditendang) saat sholat kemudian dipijak-pijak (diinjak-injak) hingga babak belur. Saya kasihan melihat Bang Jali karena saat itu dia sedang sakit batuk. Bang Jali diseret sama Densus, bang Jali tak henti-hentinya meneriakkan takbir, Allahu Akbar, Allahu akbar.
Saya masih dalam todongan senjata bersama dua perempuan dan tiga anak-anak. Kami langsung disuruh ke rumah tetangga sambil ditodong. Saya digiring ke rumah tetangga sambil ditodong senjata, di rumah tetangga. Anak-anak saya dari tadi memang berada di situ. Saya dan anak-anak saya bisa mengintip (melihat dari sela-sela atau lobang) kejadian yang terjadi di rumah kami dari rumah tetangga. Anak-anak saya berteriak-teriak tidak tak henti-hentinya. "Ummi, Ummi itu Buya, itu Buya." Anak-anak memberitahu saya mereka melihat Buya mereka dipijak-pijak (diinjak-injak). Mereka menembaki rumah kami dengan membabi buta, walaupun saya sangat yakin Bang Jali tidak ada senjata. Bang Jali hanya terus bertakbir, Allahu akbar, hanya itu yang bisa Bang Jali lakukan. Mereka menembaki saja walau tidak ada perlawanan. Dari luar mereka menembaki, di dalam juga menembaki, mereka dalam waktu satu jam itu menembak terus dengan membabi buta.
Tiba-tiba ada yang menggiring saya keluar, saya dibawa ke mobil Densus 88. Saya terus menengok (melihat) ke arah Bang Jali tapi sudah tidak terlihat. Saya tengok (lihat) suami kawan saya (Abu) dibawa ke mobil tak berapa lama. Densus membentak saya menanya saya di mana tas Bang Jali. Saya jawab (katakan), "Tengok saja sendiri." Mereka semua penakut, saya yang disuruh mengambil tas Bang Jali, mereka takut granat, padahal tidak apa-apa di tas Bang Jali.
Satu jam kemudian polisi (dari Polresta Tanjung Balai) datang ke sana, polisi pun rupanya tahu apa-apa mengenai kejadian itu. Densus pergi begitu saja.  Saya tidak tahu informasi ke mana Bang Jali dibawa, apakah Bang Jali dibawa ke Medan atau ke mana. Dari pihak Polres malah menanyakan sama saya ke mana Bang Jali dibawa Densus. Saya dinaikkan ke mobil Patroli Polresta Tanjungbalai dibawa ke kantor Polresta Tanjungbalai. Saya tidak dikasih pulang ke rumah.
Esok hari, tanggal 20 September, saya masih tidak dikasih pulang. Sebagian besar anggota Polres Tanjung Balai memperlakukan saya dengan baik, mereka kasihan melihat saya karena menengok anak saya kecil (bayi), tapi ada juga polisi di sini yang jahat dan memperlakukan saya sewenang-wenang. Saya ingin tahu kabar suami saya. Saya lihat ada koran, saya ambil untuk saya baca. Polisi berpakaian preman itu merampas koran itu dari tangan saya. Hati saya sangat sakit, tapi saya diam saja. Kapolresta baik sama saya. Dia menanyakan saya, apakah mau pulang ke rumah mengambil baju? Saya sudah bilang sama penyidik cemana ini, Pak, kalau saya masuk tahanan jelas status saya, tapi di sini saya tidak jelas sebagai apa, saya tidak tahu apa-apa. Kata penyidik tunggu kabar dari Medan saja, baru saya kasi informasi di sini.
Saya sedih karena Bang Jali tak bisa dijumpai, karena dia sudah babak belur dipijak-pijak dua puluhan orang. Mereka main serbu saja, mereka itu begitu datang tak ada basa-basi lagi. Dinding rumah kami rusak. Polisi pun tidak boleh lewat-lewat di situ selama satu jam itu. Padahal kan semua pakai peraturan.  Polresta Tanjungbalai membantu saya mempertemukan saya dengan keluarga saya agar anak-anak saya yang empat orang tidak tinggal di tahanan. Saya dipinjamkan telepon sama Polisi untuk menelepon adiknya agar saya bisa menitipkan anak-anak saya kepada keluarga kecuali yang bayi tetap bersama saya, karena dia masih saya susukan umurnya kan baru 3 Minggu.
Pada 20 September 2010 sekitar jam 9.00 WIB pagi saya pertama kali menghubungi keluarga. Saya mengasih tahu, saya sekarang di Polresta Tanjung Balai, tidak boleh keluar dari sini karena saya kata polisi dijadikan saksi. Adik saya ke ke Tanjung Balai hari Senin, 20 September itu juga, adik saya menjenguk saya. Kondisi saya sudah beberapa hari tetap tak jelas, tidak dikasih pulang, padahal saya sudah di BAP hari Minggu sampai sekarang tidak keluar-keluar. Tidak jelas, tidak boleh pulang, soalnya tidak ada yang mau datang menjenguk saya, adik saya pun hanya datang untuk mengambil si Umar, dibawa ke sana, kasihan bang Jali. Di sini saya bayi saya tidur dan hidup di sebuah ruangan yang menyerupai gudang kertas-kertas, hanya beralas tikar plastik, kasihan Fathur (bayi saya), baru 3 minggu usianya. []
Narasumber: Kartini Panggabean (semoga Allah melindunginya), istri ustadz Khairul Ghozali (semoga Allah merahmatinya) yang dituduh sebagai teroris oleh Densus 88.
Sumber: - Tim Kuasa Hukum Ustadz Khairul Ghozali, - keluarga, yakni adik Ustadz Khairul Ghozali (Ustadz DR. Adil Akhyar, SH, MH, LLM dan Ahmad Sofian, SH, MA serta abang Ustadz Khairul Ghozali, DR.Ikhwan)   Facebook: Widyasave Palestina, starnews.com
(suara-islam/arrahmah.com)
Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...


Source: http://arrahmah.com/index.php/news/read/9277/kronologis-penyerbuan-densus-88-biadab-habisi-jamaah-sedang-shalat#ixzz10eglMqoO

Sabtu, 25 September 2010

Sharia4Indonesia Jatim : Deklarasi & Aksi Bakar Bendera AS di Jombang




Jombang (Sharia4Indonesia) – Jum’at siang (24/9) Sharia4Jatim, cabang dari Sharia4Indonesia Jawa Timur melakukan deklarasi sekaligus aksi bakar bendera AS di Depan Gedung DPR Jombang. Dalam orasinya Ustadz Abu Abdillah menyerukan penerapan syariat Islam secara kaafah. Allahu Akbar!
Bendera Tauhid Berkibar Di Jombang
Siang itu, Jum’at (24/9/2010) sekitar pukul 13.30 WIB, komunitas Islam yang tergabung dalam Sharia4Jatim, bagian dari Sharia4indonesia Jawa Timur, dengan membawa bendera tauhid “Laa ilaha illallah Muhammadarrasulullah” mendeklarasikan keberadaan mereka sekaligus melakukan orasi merespon aksi pembakaran Al-Qur’an yang dilakukan di beberapa tempat di AS oleh orang-orang kafir.
Gema takbir dan kalimat tauhid seakan menggetarkan kota Jombang yang dikenal sebagai kota yang melahirkan banyak tokoh-tokoh kontroversial mulai dari Nurkholis Majid, Abdurrahman Wahid hingga Ustad Abu Bakar Ba’asyir.
Aksi Sharia4Jatim ini mengambil tempat di depan Gedung DPRD Jombang, Jalan Wachid Hasyim, Jombang, Jawa Timur. Puluhan aktivis Sharia4indonesia Jawa timur ini meneriakkan takbir dan tahlil dengan membawa bendera tauhid “Laa ilahailallah Muhammadarrasulullah” serta spanduk berukuran 3 meter bertuliskan Sharia4indonesia Jawa Timur.
Ingin Menang & Jaya, Tegakkan Syariat Islam,
Orasi dibuka oleh Abu Falih dengan diawali mengutip Surat At-Taubah ayat 33.
“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.”
Setelah itu, orasi dilanjutkan dengan mengatakan bahwa aksi yang dilakukan oleh orang-orang kafir dengan membakar Al-Qur’an adalah sebuah simbolisasi yang ingin mereka sampaikan kepada kaum muslimin di dunia, bahwa orang-orang kafir sesungguhnya sangat benci kepada muslim radikal. Karena muslim radikal menurut definisi mereka adalah mereka-mereka kaum muslimin yang ingin menerapkan Al-Qur’an sebagai undang-undang dan aturan di seluruh kehidupan dunia ini.
Orasi berikutnya disampaikan oleh Ustadz Abu Abdillah yang saat itu mengenakan gamis panjang berwarna hijau. Pada bagian awal beliau menyampaikan bahwa apa yang dilakukan oleh sharia4indonesia Jawa Timur pada saat itu adalah sebagai dari bentuk amar ma’ruf nahi munkar yang harus dilakukan oleh seluruh kaum muslimin.
Selanjutnya Ustad Abu Abdillah menyerukan pada kaum muslimin untuk melek dan bangkit dengan melihat kenyataan bahwa sesungguhnya Islam dan kaum muslimin telah dihinakan di seluruh dunia, dengan aksi pembakaran Al-Qur’an di beberapa tempat sebagai bagian bentuk penghinaan tersebut.
Ustadz Abu Abdillah menyerukan agar umat tidak meninggalkan Dakwah dan Jihad jika Islam ingin jaya. Kesempata selanjutnya beliau menyerukan penguasa negeri ini agar tunduk dan menerapkan syari’at Islam, disusul dengan kecaman terhadap kepolisian yang telah menahan beberapa aktivis Islam seperti Ustad Abu Bakar Ba’asyir, Ustad  Aman Abdurrahman, dan lainnya secara dzolim dan mununtut agar mereka dibebaskan.
Orasi yang berlangsung sekitar 30 menit ini diakhiri dengan aksi pembakaran bendera Amerika Serikat, karena AS adalah akar kemusyrikan dan pimpinan para thoghut di dunia. Demokrasinya yang nota bene adalah idiologi syirik telah merampas hak Allah Ajja wa Jalla sebagai Sang Pembuat Hukum digantikan oleh para anggota legislatif. Lebih jauh lagi, Amerika atas nama demokrasi dan kebebasan telah melakukan penjajahan dan pembunuhan jutaan kaum muslimin di seluruh dunia.
Aksi bakar bendera diakhiri dengan pembacaan do’a oleh Ustadz Abu Abdilah agar Allah membarikan kemenangan pada kaum muslimin, dapat diterapkannya syariah Islam di seluruh dunia serta mohon kepada pertolongan Allah agar selalu memenangkan mujahidin di seluruh belahan dunia. Amien Ya Robbal Alamien!

(Talazum/Sharia4Indonesia)

Kamis, 23 September 2010

ANTARA KAMI DENGAN THAGHUT


Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

ما يصنع بي أعدائي. أنا جنتي في قلبي وستاني في صدري. فهي معي لا تفارقني أينما رحت أنا حبسي خلوة. وقتلي شهادة. وإخراجي من بلدي سياحة

“Apa yang dilakukan musuh-musuhku terhadap diriku. Aku, sungguh surgaku ada di hatiku, dan tamanku yang indah ada di dadaku. Ia selalu ada bersamaku lagi tidak pernah meninggalkanku ke manapun aku pergi. Aku, sungguh pemenjaraanku adalah khalwat, pembunuhanku adalah kesyashidan, dan pengusiranku dari kampung halamanku adalah wisata.”
Sungguh musuh-musuh Allah dari kalangan para thaghut dan bala tentaranya telah mengira bahwa apa yang dilakukan terhadap para muwahhidin mujahidin oleh mereka berupa pembunuhan, pemenjaraan, penyiksaan dan penganiayaan serta pengejaran akan bisa mematikan dan memadamkan cahaya tauhid dan semangat jihad yang sudah menyatu di dalam jiwa, dan mereka menyangka bahwa tindakan tadi akan membuat yang lain urung diri dari meniti jalan tauhid dan jihad ini….sungguh tidak mungkin….

يُرِيدُونَ لِيُطْفِؤُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan (ucapan) mulut-mulut mereka, sedangkan Allah tetap akan menyempurnakan cahaya (agama)-Nya walaupun orang-orang kafir itu benci.” [Ash Shaff : 8]
Walaupun mereka mengerahkan semua setan-setannya dari kalangan tentara dan polisi yang mengarahkan moncong senjatanya dan kalangan ulama suu’ bayaran yang telah menjual ayat-ayat Allah dengan dunia yang fana yang menipu umat dan membiusnya agar tetap manut kepada thaghut dan melabeli para pembela Islam hakiki dengan gelar-gelar buruk yang menakutkan atau menjijikkan. Tapi tindakan itu semuanya tidak bisa melenyapkan cahaya kebenaran walaupun bisa saja sesaat menghalanginya, ibarat kabut yang hanya sesaat menghalangi cahaya matahari dan tidak lama berselang kabut akan sirna dan cahaya matahari kembali kelihatan sinarnya. Maka silahkan lakukan apa yang ingin kalian lakukan, tapi ingatlah bahwa yang kalian lawan itu bukanlah kekuatan makhluk yang lemah, namun yang kalian tantang itu adalah kekuatan Penguasa langit dan bumi….
Bercerminlah dengan para thaghut masa lampau… Ini dia kaum ‘Aad yang angkuh menolak dakwah tauhid dan malah angkuh mengatakan:

مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً

“Siapa yang lebih dasyat kekuatannya dari kami?.” [Fushshilat : 15]
mereka tidak tahu bahwa Allah ta’ala lebih kuat dari mereka.

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً

“Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang telah menciptakan mereka, Dia lebih hebat kekuatannya dari mereka?.”[Fushshilat : 15]
Maka Allah ta’ala kirimkan adzab yang mematikan:

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي أَيَّامٍ نَّحِسَاتٍ لِّنُذِيقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَخْزَى وَهُمْ لَا يُنصَرُونَ

“Maka Kami tiupkan angin yang sangat bergemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang nahas, karena Kami ingin agar mereka itu merasakan siksaan yang menghinakan dalam kehidupan di dunia. Sedangkan adzab akhirat pasti lebih menghinakan dan mereka tidak diberi pertolongan.” [Fushshilat : 16]
Ini juga Fir’aun dan bala tentaranya yang angkuh dan aniaya yang membunuhi kaum pria Bani Israel, memperbudak para wanitanya dan memenjarakan dan membunuhi orang-orang yang beriman yang menolak tunduk kepada aturannya, apa yang Allah ta’ala timpakan di dunia kepada mereka dan yang disiapkan di akhirat:

وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ إِلَيْنَا لَا يُرْجَعُونَ، فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ، وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنصَرُونَ، وَأَتْبَعْنَاهُمْ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ هُم مِّنَ الْمَقْبُوحِينَ

“Dan dia (Fir’aun) dan bala tentaranya berlaku sombong di bumi tanpa alasan yang benar, dan mereka mengira bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Kami siksa dia (Fir’aun) dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang zalim. Dan Kami jadikan mereka para pemimpin yang mengajak (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami susulkan laknat kepada mereka di dunia ini sedangkan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah).” [Al Qashash : 39-42]
Ini juga Abu Jahl dan para pembesar Quraisy lainnya yang merasa berkuasa di Mekkah, angkuh dan menghina serta menindas Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya, pada akhirnya setelah kaum muslimin bersabar dan memiliki kekuatan, mereka terbunuh di perang Badar dan dilemparkan ke dalam sumur Badar [shahih Al Bukhari, Bab melemparkan bangkai kaum musyrikin ke dalam sumur]
Begitulah nasib semua para thaghut, akan ada masanya bagi keberakhiran, namun hanya orang berakallah yang mengambil pelajaran.
Puncak kebahagiaan mereka adalah kekuasaan, dan itu akan berakhir baik digantikan oleh yang lain ataupun dengan kematian. Sedangkan harta maka akan ditinggal mati pula dan begitu juga isteri yang cantik, maka bagaimana kalau fisik sudah lemah lagi tua? Kebahagiaan dunia ada batasnya dan bahkan akan menjadi sumber kesengsaraan batin bila tidak didasari tauhid dan amal saleh, karena yang menjamin kebahagiaan jiwa hanyalah iman (tauhid) dan amal saleh, sebagaimana firman-Nya ta’ala:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa beramal saleh baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia itu mu’min maka sungguh Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh Kami akan memberikan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An Nahl : 97]
Kehidupan yang baik itu adalah kehidupan yang bahagia baik di dunia maupun di akhirat, Allah ta’ala menjanjikannya kepada hamba-Nya yang bertauhid dan beramal saleh. Sedangkan kehidupan yang bahagia di dunia ini adalah kenikmatan hati dan ketenangan jiwa yang dirasakan oleh orang yang menghambakan dirinya dan berserah diri kepada Pencipta-Nya, apapun dan bagaimanapun kondisi yang dialaminya, apakah penindasan atau penyiksaan atau pemenjaraan bahkan pembunuhan sekalipun. Semakin dekat seorang hamba muwahhid kepada Allah dan semakin tunduk dan taat kepada perintah-perintah-Nya, maka semakin besar pula kebahagiaan hidup yang dia rasakan. Semakin besar pengorbanan yang dia ikhlaskan kepada Allah ta’ala demi tegaknya ajaran Islam di muka bumi ini, maka semakin besar pula kenikmatan hidup yang dia rasakan dan semakin besar pula keinginannya untuk berkorban lebih besar dan lebih banyak di jalan Allah ta’ala, agar semakin besar pula kebahagiaan jiwa yang dia rasakan dan semakin tinggi pula tingkatan surga yang dijanjikan untuknya.
Maka tidaklah aneh bila Yusuf ‘alaihissalam lebih memilih di penjara daripada mengikuti ajaran berbuat maksiat.

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ

“Ya Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada mengikuti ajakan mereka.”[Yusuf : 33]
Begitu pula si Ghulam di dalam kisah Ashhabul Ukhdud dengan senang hati dirinya di bunuh demi tegaknya kalimat Allah ta’ala…
Dan kaum muwahhidien yang menerima dakwah tauhid yang dibawa si ghulam itu lebih merelakan diri mereka di bakar hidup-hidup sampai mati daripada meninggalkan prinsip mereka yang benar.

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ، النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ، إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ، وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ، وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَن يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيد

“Binasalah orang-orang yang membuat parit (yaitu pembesar-pembesar Najran di Yaman), yang berapi (yang memiliki) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang mu’min. Dan mereka menyiksa orang-orang mu’min itu hanya karena (orang-orang mu’min itu) beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaterpuji.” [Al Buruj : 4-8]
Itu terjadi karena merasakan kebahagiaan hidup di atas tauhid dan keyakinan kebahagiaan yang lebih besar yang akan mereka raih bila komitmen terus di atas prinsip, sehingga penderitaan sesaat di dunia tidak mereka hiraukan.
Manisnya keimanan yang sudah menyatu di dalam jiwa mampu mengalahkan pahitnya penyiksaan yang dialami Bilal Ibnu Rabah Radliallahu ‘anhu, sehingga semakin dasyat penyiksaan yang dilakukan maka semakin nikmat iman yang ia rasakan, sehingga serta merta terlontar dari lisannya padahal ia di tengah penyiksaan:

أحد أحد لو علمت كلمة أغيظ منها لقلتها

“Esa, Esa, Andaikata ada ucapan lain yang lebih membuat kalian geram darinya, tentu aku mengatakannya,”
Subhanallah …. Sungguh rugi orang yang tidak pernah merasakan manisnya iman ….
Mantapnya keyakinan tauhid dan keyakinan bahwa manfaat dan madlarat itu hanya di Tangan Allah bukan di tangan makhluk walaupun mereka itu para penguasa negeri, keyakinan ini yang mendorong Nabi Nuh ‘alaihissalam mengatakan:

يَا قَوْمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُم مَّقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللّهِ فَعَلَى اللّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُواْ أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءكُمْ ثُمَّ لاَ يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُواْ إِلَيَّ وَلاَ تُنظِرُونِ

“Wahai kaumku! Jika terasa berat bagi kalian keberadaanku (di tengah kalian) dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah aku bertawakkal, karena itu bulatkan keputusan kalian dan kumpulkan sekutu-sekutu kalian (untuk membinasakanku), dan janganlah kalian ini dirahasiakan, kemudian bertindaklah terhadap diriku dan janganlah kalian tunda lagi.” [Yunus : 71]
Sehingga kematian di jalan Allah ta’ala bukanlah kelelahan, tapi justru merupakan kemenangan. Itulah yang diyakini para sahabat Radliallahu ‘anhu, dimana salah seorang dari mereka mengatakan saat dikhianati dan dibunuh musuh:

فزت ورب الكعبة

“Saya menang, demi Rab ka’bah.”
Kenapa menang padahal dia teerbunuh? Ya, menang karena dengan tauhid dan amalnya inidia mendapatkan surga dan dijauhkan dari neraka, menang meninggalkan kekeruhan dunia ke alam surga yang penuh kenikmatan, dan menang mendapatkan fisik yang sempurna di alam sana.

فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka dia telah menang. Dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” [Ali Imran : 185]
Bahkan luka yang didapatkan di jalan Allah akibat serangan musuh atau penyiksaannya akan menjadi nilai pahala dan diharapkan balasannya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata di dalam hadits yang tsabit:

ما من مكلوم في سبيل الله والله أعلم بمن يكلم في سبيله إلا جاء يوم القيامة وكلمه يدمى. اللون لون الدم والريح ريح المك

“Tidak sseorang pun yang terluka di jalan Allah –dan Allah lebih mengetahui akan orang yang terluka di jalan-Nya- melainkan ia datang di hari kiamat sedangkan lukanya mengalirkan darah, warnanya warna darah dan baunya bau kasturi.”
Bahkan kalau dipenjara maka dia itu dalam posisi didzalimi, bahkan anak istrinya pun ikut didzalimi, sedangkan doa orang yang didzalimi itu mustajab, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Hati-hatilah terhadap doa orang yang didzalimi, karena diantara doa itu dengan Allah tidak ada penghalang.” [HR Al Bukhari dan Muslim]
Maka akan digunakan doa itu untuk kehancuran para thaghut dan ansharnya…..
Dan akan kami gunakan kesempatan di penjara ini insya Allah untuk mengajak orang yang bisa kami ajak kepada tauhid dan kepada sikap membenci dan memusuhi para thaghut dan ansharnya, sungguh bisa mengajak mereka adalah keutamaan bagi kami, karena Rasul kami mengatakan:

لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

“Sungguh Allah memberi hidayah kepada seseorang dengan sebab kamu adalah lebih baik bagimu daripada unta yang merah.” [HR Al Bukhari]
karena setiap amal kebaikan yang dilakukan orang tersebut maka kami mendapatkan seperti pahala orang tersebut tanpa mengurangi pahala dia itu, sebagaimana dijelaskan oleh Rasul kami:

من دل على خير فله مثل أجر فاعله

“Barangsiapa menunjukkan (orang lain) kepada kebaikan, maka dia mendapatkan seperti pahala orang yang mengerjakannya.” [HR Muslim]
Kalau kalian mengisolasi kami dan menjauhkan kami dari manusia, maka akan kami gunakan untuk belajar dan mengkaji ilmu-ilmu Islam dan meeringkasnya buat bekal di masa mendatang, sedangkan sebaik-baiknya teman di dalam kesendirian adalah buku, dan kalian bisa melihat bahwa mayoritas buku yang ditulis atau diterjemahkan aktivis Islam yang tersebar di tengah masyarakat adalah hasil pekerjaan di penjara.
Dan andaikata kalian menjauhkan kami dari buku dan tulisan, tapi kalian tidak bisa menjauhkan diri kami dari Al Qur’an dan dzikrullah, dimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam telah menamakan majelis dzikir sebagai taman surga:

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

“Bila kalian melewati taman-taman surga, maka bersenang-senanglah.” Mereka bertanya: Apakah taman-taman surga itu? Beliau menjawab: Halaqah-halaqah dzikir.” [Hadits Hasan riwayat Ahmad dan At Tirmidzi]
Sehingga di situlah kebahagiaan hidup dan ketenangan jiwa dapat dirasakan.

أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” [Ar Ra’du : 28]
Bagaimana tidak, sedangkan ini adalah kesempatan untuk meraih cinta Dzat yang paling kami cintai, dengan ibadah-ibadah sunnah dan bermunajat kepada-Nya, dimana Dia berkata di dalam hadits Qudsi:

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“….Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (ibadah-ibadah sunnah) sampai Aku mencintainya. Dan bila Aku telah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang dengan itu ia mendengar dan pandangannya yang dengan itu ia melihat dan tangannya yang dengan itu ia memukul dan kakinya yang dengan itu ia berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku tentu Aku memberinya dan bila ia meminta perlindungan dengan-Ku tentu Aku melindunginya.” [HR Al Bukhari]
Kalau demikian, tentu kami akan meminta kepada Allah ta’ala agar menimpakan kehancuran kepada para thaghut dan anshar mereka pada kekuasaannya, keluarganya, harta bendanya dan kesengsaraan batin yang berkepanjangan walau di atas kekuasaan dan melimpahnya harta, kecuali mereka taubat….Allahumma Amiin…
Yang jelas apapun yang kami alami di jalan Allah ini adalah kebaikan semuanya, dimana bila kami dibunuh, maka itu kesyahidan yang di cita-citakan, bila kami di penjara maka itu adalah khalwat dan munajat yang mendekatkan kepada Allah ta’ala dan menjauhkan dari dosa, dan bila kami diasingkan ke negeri lain, maka itu wisata dalam rangka tafakkur penciptaan.
Segala yang kami alami di jalan Allah ini baik berupa kesulitan, kesengsaraan dan kepedihan bahkan sikap kami yang membuat kalian para thaghut makin geram dan jengkel terhadap kami adalah bernilai amal saleh:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لاَ يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلاَ نَصَبٌ وَلاَ مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَطَؤُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلاَ يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَّيْلاً إِلاَّ كُتِبَ لَهُم بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللّهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ، وَلاَ يُنفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلاَ كَبِيرَةً وَلاَ يَقْطَعُونَ وَادِيًا إِلاَّ كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللّهُ أَحْسَنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Yang demikian itu, karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal kebajikan. Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, dan tidaklah mereka memberikan infaq, baik kecil maupun yang besar dan tidak (pula) melintasi suatu lembah (berjihad), kecuali akan dituliskan bagi mereka (sebagai amal kebajikan), untuk diberi balasan oleh Allah (dengan) yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” [At Taubah : 120-121]
Itu bagi kami….
Sedangkan bagi kalian wahai para thaghut negeri ini dan bala tentaranya yang berjuang dan bertugas di jalan thaghut (hukum buatan/wahyu syaitan), bukankah yang kalian cari itu adalah keberkuasaan di dunia, penghormatan manusia dan kejayaan serta kebanggaan dengan dinas saat kalian ini mempertuhankan selain Allah ta’ala yaitu para pemimpin kalian dan hukumnya yang lebih kalian taati daripada hukum Allah? Dan bukankah yang kalian harapkan di balik itu adalah gaji bulanan dan kesejahteraan hidup dunia?
Apakah kalian bercita-cita mati tertembak kami saat kalian sedang memerangi kami di dalam melaksanakan tugas pimpinan (thaghut) kalian, sebagaimana cita-cita kami mati tertembak kalian? Bukankah kata ulama-ulama bejat kalian bahwa tugas kalian ini jihad juga?

فَتَمَنَّوُاْ الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“maka berharaplah untuk mati jika kalian memang orang-orang yang benar!” [Al Baqarah : 94]
Kami yakin kalian takut mati dan tidak akan bercita-cita mati di dalam tugas ini apalagi yang masih muda dan baru berpangkat Briptu atau Bripda, belum kembali modal:

وَلَن يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمينَ

“Dan mereka tidak akan menginginkan kematian itu sama sekali, dengan sebab dosa-dosa yang telah dilakukan tangan-tangan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang zalim.” [Al Baqarah : 95]
Bagaimana kalau kalian terluka di jalan tugas dan cacat seumur hidup, apakah kalian yakin bahwa luka itu disisi Allah berbau kasturi dan kalian bersyukur kepada Allah karena dicatat sebagai yang terluka di jalan Allah? Ataukah kalian khawatir bahwa tuhan kalian (thaghut) tidak bisa memberikan kesejahteraan di masa tua sebagaimana banyak kaum veteran yang terlantar?
Kalau kalian memang benar dengan tugas kalian ini, apakah kalian rela dan mau bertugas tanpa digaji dan tanpa dibayar padahal taruhannya adalah nyawa? Dan apakah kalian mau menginfaqkan harta pribadi kalian yang ada di rumah atau dapat warisan dari orang tua kalian, terus kalian berbondong-bondong dengan ikhlas menyerahkannya kepada pimpinan kalian (yaitu thaghut atau tuhan kalian) sebagai dana infaq lillahi ta’ala untuk memerangi kami yang di cap teroris?
Adapun kami, maka bukan sekedar harta yang kami miliki bahkan nyawa yang kami miliki, kami relakan dan ikhlaskan di jalan yang kami tempuh ini yaitu tauhid dan jihad. Kami tidak digaji sebagaimana kalian, tapi kami mengharapkan balasan surga di sisi Allah ta’ala.
Bila kami mengalami derita maka kalian juga mengalami, bila kami terancam terbunuh dan terluka maka kalian juga sama terancam. Bila kami lama berpisah dengan keluarga maka kalian juga sering berpisah dengan mereka, bila kami begadang menahan kantuk maka kalian pun saat menjaga kami begadang menahan kantuk, namun kami mengharapkan dari Allah ta’ala apa yang tidak kalian harapkan. Kami mengharapkan surga dan keridlaan-Nya, sedangkan kalian mengharapkan gaji bulanan serta menunggu neraka dan murka-Nya:

إِن تَكُونُواْ تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللّهِ مَا لاَ يَرْجُونَ

“Bila kalian (kaum mu’minin) menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan sebagaimana kalian menderita kesakitan, sedang kalian mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan.” [An Nisa : 104]
Oleh sebab itu mari kalian bergabung di barisan pembela hukum Allah ta’ala dan tinggalkan barisan hukum thaghut yang menggiring kalian ke jurang neraka. Tinggalkanlah tuhan-tuhan yang selama ini kalian berikan loyalitas kepadanya, karena di akhirat para pemimpin yang kalian pertuhankan (dengan loyalitas) itu akan berbalik mengingkari dan memusuhi kalian:

وَاتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِّيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا، كَلَّا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا

“Dan mereka telah menjadikan tuhan-tuhan selain Allah, agar tuhan-tuhan itu menjadi pelindung bagi mereka, sama sekali tidak! Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan mereka terhadapnya, dan akan menjadi musuh bagi mereka.” [Maryam : 81-82]
Kalian kelak akan saling melaknat dengan para pemimpin dan komandan kalian di dalam api neraka:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا، وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا، رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

“Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” Dan mereka berkata: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati para pemimpn dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.” [Al Ahzab : 66-68]
Begitulah realita kalian dan atasan kalian nanti, karena kalian adalah orang-orang kafir…..
Sebagian kalian sewot dan marah seraya mengatakan: saya kafir?!!! Saya ini muslim, rajin shalat bahkan sudah naik haji, jangan sembarangan kalian berbicara…!!!
Kami katakan: Mengaku muslim dan mengerjakan amalan orang Islam tidak menjamin orang itu muslim, kalau dia tidak terdaftar atau tercantum di dalam prosedur pokok keislaman, sebagaimana orang umum yang mengaku polisi dan memakai seragam polisi serta melakukan sebagian apa yang menjadi tugas polisi, tidaklah dijamin bahwa dia itu polisi kalau dia tidak terdaftar di dalam prosedur kepolisian, bukankah demikian?
Ketahuilah bahwa orang tidak disebut muslim kecuali memenuhi dua hal: iman kepada Allah dan kafir kepada thaghut, ”kalian memang shalat, shaum dan haji yang mana ini adalah sebagian konsekuensi iman kepada Allah ta’ala, tapi kalian tidak kafir kepada thaghut, yaitu undang-undang buatan manusia, tapi malah kalian loyal kepadanya dan menjadi penegaknya dan menangkap orang-orang yang ingin menggantinya dengan hukum islam saja.
Kami jujur kepada kalian, dan kami tidak seperti ulama bejat yang menipu kalian yang mendukung pekerjaan kalian….tapi ketulusan kami kepada kalian malah kalian balas dengan keburukan…
Perumpamaan pemerintah thaghut beserta aparatur yang loyal kepadanya ibarat kereta api yang melaju diatas rel yang akan menuju jurang yang membinasakan, sedangkan kami beserta para penyeru tauhid adalah ibarat orang-orang yang mencegat kereta kalian di depannya seraya berteriak meminta agar kereta direm karena akan menuju jurang yang dalam, tapi kalian bukan menghentikan kereta dan berterima kasih kepada kami, namun kalian malah melempari kami, membodoh-bodohi kami dan mengencangkan laju kereta serta menggilas kami….
Kami tulus kepada kalian walau dengan mengorbankan diri kami sendiri, tapi ahli agama yang dibayar pemerintah kalian atau yang menjilat kalian malah menipu diri kalian dengan membenarkan tugas kalian dan menyalahkan kami….
Allah ta’ala telah menjelaskan di dalam ayat-ayat Qur’aniyyah peerihal kebenaran tauhid dan jihad ini, bahkan Dia-pun sesuai janji-Nya selalu menampakkan kepada kami dan kalian ayat-ayat kauniyyah-Nya ini:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al Qur’an itu benar.” [Fushshilat : 53]
Kalian menyaksikan dan manusia pun menyaksikan karamah yang Allah ta’ala tampakkan pada diri saudara-saudara kami yang kalian eksekusi mati atau kalian tembak mati, dimana mereka tersenyum, berbau wangi dan tidak membusuk padahal sudah berhari-hari, padahal perhatikan mayat-mayat kawan-kawan kalian, apakah seperti itu? Apakah itu tidak menggugah kalian, ataukah hati sudah membatu sehingga tidak bisa memahami dan mata menjadi buta tidak melihat keajaiban itu?

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Sebenarnya bukan mata itu yang buta, namun yang buta ialah hati yang ada di dada.’ [Al Hajj : 46]
Kalau tidak percaya, maka ingatlah bahwa kami dan kalian akan mati, baru disana jawabannya nyata:

وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ

“Dan orang-orang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” [Asy Syu’ara : 227]
8 Ramadlan 1431 H
Abu Sulaiman
Mu’taqal PMJ